Kenangan Empat Kata

Kamis, 16 Desember 2010

“Apa permohonanmu kali ini?”

“Aku ingin hidup dengan bahagia bersama ayah, ibu dan kakak. Aku ingin keluarga kita selalu utuh.”

Suara renggang derap langkah mengisi udara yang terpotong oleh sinar matahari yang jatuh miring dari kanan. Hangatnya yang masih tersisa sedari tadi menyiram separuh kulitku, dan kini sedang meresap menjalari otot dan tulang. Seolah tak mau kalah, jari-jari angin dengan usilnya mengelus rambutku yang terurai lurus. Sementara nun di bawah sana, anak-anak ombak berlomba menyinggahi mulut pantai. Butir air dan buihnya kadang terasa begitu ingin kusentuh dan kumainkan.


Tapi saat ini yang kumainkan hanyalah bayanganku sendiri, tepatnya bayangan setengah badan yang bergerak terus mengikuti tanpa jemu. Aku ingin sekali mengusir bayangan itu, karena bayangan berbeda dengan manusia, denganku. Bayangan itu masih dapat menyimpan apa yang sudah aku lupakan. Namun anehnya, meski aku membenci bayangan, terkadang aku tak lebih berbeda dari bayangan itu sendiri.

Jalanan beton ini merebah sepi di tepi tebing yang tak seberapa tingginya, namun berbatasan langsung dengan pantai. Seperti biasa, aku suka berjalan sendiri di senja hari seperti ini, menikmati suasana seolah semua adalah milikku.

Kadang pula kusaksikan beberapa anak kecil bermain-bermain di tepi pantai di bawah sana ; melompat, kejar-kejaran, sampai bermain pasir atau berenang di laut. Aku tak heran karena di dekat sini memang terdapat perkampungan nelayan (yang tentunya nelayan-nelayan di sana memiliki anak). Selalu aku merasa bahwa anak-anak itulah pemilik pantai dan laut ini yang sebenarnya.

Anak-anak kecil itu bagaikan peri dari surga ; rambut bersinar keemasan memantulkan cahaya matahari dan tubuh mungil lincah kesana-kemari. Mungkin mereka yang membuatku betah untuk berlama-lama di tempat ini sembari memandang matahari tenggelam, sekaligus mereka juga yang kerap mengantarkan kenangan-kenangan masa kecilku dulu. Namun tampaknya sore ini aku agak sulit mengingatnya, karena anak-anak itu kini tak datang.

Dalam irama yang melambat tetap, langkahku berhenti. Kelima jemari kananku yang tengah mengelus pundak pagar pembatas jalan pun ikut berhenti. Diam sejenak mendengarkan nyanyian laut dan angin. Seakan mengisi pikiranku oleh hal-hal baru tapi lama. Pelan-pelan aku pun memutar badan ke kanan, dan matahari keemasan yang merayap menghampiri horison. Kami sama-sama diam berpandangan.

Rasanya ada sesuatu yang kembali. Seharusnya ini sudah kurasakan sejak tadi karena memang inilah tujuanku kemari. Deraian air laut seakan mengangguk mengerti.

Tanganku beralih mengambil buku catatan dari tas yang menggantung di pinggangku.

Semuanya masih terekam dalam memoriku. Waktu itu mungkin tak seperti sekarang, tapi suasananya sama persis ; ombak ini, angin ini, matahari ini. Dalam perasaan yang serupa daun kering di tengah lautan lepas, pelan-pelan kubalik ke suatu halaman di bukuku. Di sana, seseorang telah menorehkan beberapa baris kalimat indah.

Di setiap detikmu yang terpotong
Bintangmu terpecah ke tujuh samudra
Dalam lingkaran
Berjalan berlentera biru

Pergi dan satukan bintang itu!

Lewati daun dan catatlah
Di bebatuan ada namamu
Riak angin kau tahu
Lihat dunia dari nirwana

Kala hujan
Kau lihat langit berputar
Ingin meminjam hatimu
Maka pergilah saat itu

Rebahkan jiwa padaNya
Ingat buih samudra itu
Selalu menantimu
Ada ketika sungai fana

Lintasi laut dengan layarmu
Yang bersiramkan emas
Dan tapaki seribu masa
Selamat ulang tahun Adikku

Berdiri dan lihat masa depanmu!


Tanpa perintah dan tanpa peringatan, angin membalik liar halaman bukuku hingga berantakan. Suara gesekan puluhan kertas berpadu dengan suara gesekan puluhan volume air laut. Buku itu kututup sebelum sempat membalik sampai halaman terakhir. Mataku serasa berkaca mengenang bait kata-kata tadi, sementara jauh di dalam, hatiku pilu. Rasanya sudah lama sekali.

Aku memutar badan dan bersandar di pagar pembatas yang tingginya mampu menyamai pinggang. Sambil diam, kubelakangi matahari.

Seluruh pori-pori kulitku merinding dan bergetar. Aku masih tak sadar ketika aliran air hangat melintas di sekitar pipiku, lalu terjatuh ke jalanan beton setelah ada dua detik menggantung di daguku. Air mata yang terjatuh itu tak terlihat karena aku sedang tengadah menghadap langit bernuansa oranye kebiruan, namun entah mengapa dapat kurasakan.

Suasana ini mengingatkanku pada satu hari yang telah lalu. Hari yang paling berkesan namun terhapus oleh hari lain yang paling menyedihkan. Senja di waktu itu, aku dan kakakku bercengkrama di tempat ini, sambil memandang matahari tenggelam. Kami sangat akrab, bagi seorang gadis lemah sepertiku, seorang kakak laki-laki merupakan malaikat pelindung. Dan memang seperti itulah, kakakku yang penuh kejutan itu, tak pernah absen dari menemaniku. Hari itu, adalah hari ulang tahunku yang kelima belas.

“Kau tahu kenapa matahari selalu bergerak setiap hari, datang dan pergi?” tanya kakakku seraya lebih mendekat ke depan, menopangkan tubuh tegapnya di atas kedua tangan yang menumpu pundak pagar pembatas. Tak ayal, sinar matahari di depan sana seketika merebut bola matanya

“Kenapa? Karena itu sudah sistem alam, kan?” jawabku polos. Aku tak terlalu serius menangkap pertanyaannya karena senja di laut lepas sangat memukau pandangan.

“Bukan. Bukan itu.”

“Lalu, apa?” Kali ini pemuda dua puluh tahunan itu mampu merenggut perhatianku.

Katanya, “Ia bergerak karena jika ia tetap diam, orang akan menjadi bosan hingga enggan memandang.”

“Jadilah gadis yang terus berkembang. Karena jika kau tak pernah menambah wawasanmu, kau tidak akan mempunyai arti di mata dunia.” Kakakku kembali berujar sebelum aku sempat berkata-kata.

“Ya, ya, aku mengerti.” Jawabku santai.

“Di setiap detikmu yang terpotong, bintangmu terpecah ke tujuh samudra, dalam lingkaran, berjalan berlentera biru. . .”

Aku tertegun pada setiap kata yang meluncur dari bibir tipis itu. Kakak mengucapkannya dengan irama yang penuh melodrama, bagaikan bunyi seruling mengiringi angin. Aku menoleh segera. Kata-kata itu rasanya pernah aku dengar, atau aku baca? Tapi di mana ya?

Lagi-lagi kakak tak memberiku kesempatan untuk menjawab.

“Selamat ulang tahun, ya, Adik Kecilku!” ucapan selamat itu diakhiri dengan elusan ringan di rambut hitam panjangku. Aku hanya tersenyum malu-malu, muka ini rasanya memerah. Bahkan sebenarnya aku tak ingat akan hari ini, jika bukan karena catatan yang ditulis kakakku.

“Kakak, ya, yang mencuri buku harianku dan menulisinya puisi?” tanyaku.

Yang ditanya hanya tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya sebanyak dua kali.

Mengerang manja, aku memukul lengan kiri kakak. Spontan ia mengaduh, tapi aku malah tertawa. Dan terus terjebak antara tawa dan senyum melihat kakak yang mengusap-usap lengannya. Hingga pada akhirnya kami sama-sama tertawa. Begitu lama dan seakan kekal.

Kami biarkan matahari, laut dan angin menyimak. Merekamnya, lalu membawanya kembali.

Masih terdiam, bibirku mencoba tersenyum tapi gagal. Enggan memandang matahari dan laut. Kenangan itu bukan lagi sesuatu yang menggembirakan, tapi, pahit. Kenyataan yang terjadi pada hari itu, sangat ingin aku ulangi lagi sekarang, tapi tak bisa. Buku yang masih kegenggam ini pun mengerti akan itu.

“Kau bersedih, ya?” tiba-tiba seseorang yang entah sejak kapan berada di sampingku bertanya.

Kaget. Sontak aku segera mengusap mata. Tapi yang terjadi air mataku justru tambah meleleh, karena aku masih mengenal suara itu. Suara yang seakan datang dari masa lalu, atau aku yang sedang terjebak dalam kenangan masa lalu?

“Kakak tidak suka jika kau sedih.”

Dengan gayanya yang khas, kakakku berdiri di sana. Bertopang pada kedua tangan di atas pundak pagar, seperti dulu. Mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak favoritnya dipadu celana warna coklat tua, seperti dulu juga. Rambutnya yang hitam dibelah tengah, bola mata yang kecoklatan itu tersiram sisa cahaya mentari. Namun yang berbeda, wajah kakakku nampak lebih bersih dan damai. Dan tubuhnya, tubuhnya seolah transparan.

“Kenapa kakak kemari?” tanyaku terisak.

“Kenapa? Tentu saja untuk mengucapkan selamat ulang tahun yang keenam belas untukmu, kan?”

“Tapi kakak sudah tak ada!” sahutku.

Ada jeda sejenak di antara kami. Kakak tengadah menghadap langit. Sementara dalam ingatanku terisi gambaran peristiwa tragis sehari setelah ulang tahunku tahun lalu.

“Toh, sekarang aku ada, kan?” ucap kakakku, tenang, dengan kata demi kata yang di eja pelan-pelan. “Kalaupun tidak di sini, di hatimu.”

“Lalu kenapa kakak pergi?” Aku menelan ludah. Kecelakaan saat kakakku hendak mengajakku rekreasi dalam merayakan ulang tahunku dulu, begitu membekas. “Aku rindu kakak! Ayah dan ibu juga! Kami semua rindu kakak!”

“Maaf.” Hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Kami kembali terdiam, sama-sama diam. Aku memutar badan untuk memandang matahari yang tinggal separuh. Mengingatkanku pada perkataan kakakku dulu : aku harus berkembang! Aku tak boleh termakan oleh masa lalu, aku tak boleh larut dalam kesedihan. Masih ada hari-hari lain di depan.

Mendadak pertanyaanku terjawab dengan sendirinya. Aku sadar, mungkin kakakku pergi karena memang sudah waktu baginya pergi, seperti matahari ini akan pergi jika waktunya telah usai.

Aku menoleh dan mendapati kakakku sudah tak ada lagi di tempat yang tadi. Hatiku perih, kakak memang sudah tak ada. Ia sudah lama meninggal. Jantungku serasa jatuh ke pusat bumi menerima kenyataan ini. Yang tadi kulihat mungkin hanyalah serpihan ingatanku yang terlempar.

Namun beberapa detik kemudian aku merasa ada seseorang di dekatku. Membisikkan empat deret kata. Begitu dekat.

“Selamat ulang tahun, Adikku.”

Aku menoleh ke samping, ke belakang. Tak ada siapapun. Kosong.






Nganjuk.
11/12/2010, 05:48
Rio S. Pambudi

0 komentar:

Posting Komentar