Gerbang Kelima dan Keenam

Rabu, 15 Desember 2010

Vahn masih tergeletak tak berdaya di ujung Tangga Dua Waktu. Matanya memandang jauh, memancarkan kebahagiaan dan kesedihan. Kebahagiaan karena telah berhasil menunaikan tugasnya, namun di sisi lain turut memancarkan kesedihan karena ia harus berpisah dengan dunia yang ia cintai. Sebenarnya ia tak terlalu mencintai dunia yang nyaris hancur ini, tapi ia sangat menyayangi orang-orang yang sempat ia kenal selama hidup. Pemuda yang mungkin tak akan sempat merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh delapan itu, kini serasa seolah merindukan mereka semua : Costral dan Liandra, ayah dan ibunya yang sudah pergi mendahuluinya di awal Zaman Hitam, sahabat karibnya Gissel yang selalu menemaninya sejak masa kanak-kanak, Jenderal Kiltzov yang mungkin sekarang masih bertempur memimpin pasukan di Lembah Maut, dan putri Reini yang ia harap sekarang juga merindukannya.



Sejenak Vahn mengutuki dirinya sendiri, kenapa ia mau menerima tugas yang mempertaruhkan nyawa ini? Dan lagi-lagi pertanyaan itu kembali pada dirinya sendiri tanpa jawaban. Ia memandang telapak tangan kanannya yang terbungkus darah, samar-samar di sana masih terlihat stigma yang menyala redup dan semakin redup hingga padam beberapa detik kemudian.

“Mungkin ini memang takdirku untuk menutup Gerbang Keenam dan mengalahkan Loy.” Vahn menggerutu.

Pemuda itu ingin berdiri untuk memandang dunia di bawahnya, tapi kucuran darah yang terus mengalir dari dadanya menjawab. Pada akhirnya Vahn hanya bisa terduduk sambil mendesah perlahan. Dari tepi tangga, ia memandang menembus awan-awan putih. Dikelilingi bidang-bidang hijau belantara yang tampak seperti karpet yang direbahkan, terlihat titik-titik bangunan yang tersebar kurang merata, dan di antara bangunan-bangunan itu seperti ada yang bergerak-gerak. Vahn menyungging senyum, balatentara Kerajaan Persva sudah berhasil menembus Hutan Zen dan memasuki Reruntuhan Arsen.

Semuanya sudah berakhir. Vahn tak dapat memanggil mereka untuk mengabarkan bahwa ia sudah berhasil. Lagipula itu tidak perlu. Toh, nanti mereka akan tahu sendiri, saat mereka melihat Cahaya Qinma berpendar di langit, dan tangga ini pun akan hancur. Kini, pemuda itu hanya bisa mengenang kehidupannya yang telah lalu. Tentang bagaimana dulu ia dibesarkan di Tiren, desa kecil di tepi gunung yang dipenuhi atmosfer kedamaian. Dulu ia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah sedemikian rupa.

Tidak. Vahn yang kurang menyadari bahwa tanda-tandanya sudah nampak. Ia ingat sewaktu kecil banyak kejadian supranatural yang ia alami ; mulai dari tangan kanannya yang tiba-tiba berpendar, tubuhnya yang terbang dengan sendirinya, kemampuannya untuk menggerakkan benda tanpa menyentuh atau bahkan menciptakan api dari ujung-ujung jarinya. Tapi Vahn tak pernah mengetahui untuk apa semua itu, setidaknya sampai usianya yang kedua puluh, saat Zaman Hitam datang mencengkram dunia. Barulah Vahn sadar bahwa dirinya adalah kunci Gerbang Keenam yang selama ini dipilih secara acak. Salah satu dari keenam gerbang yang menghubungkan Dunia Manusia dengan Dunia Iblis.

Mulai saat itu Vahn selalu dicari oleh berbagai pendekar di belahan dunia ini. Mula-mula Vahn sangat bahagia karena merasa sebagai orang yang dipuja-puja dan di anggap dapat menyelamatkan dunia dari ancaman Iblis. Puncak dari kebahagiannya adalah ketika ia berada di perlindungan Benteng Freny di pusat Kerajaan Persva, di mana di sanalah ia pertama kali bertemu dengan Reini, putri satu-satunya Raja Dersak. Vahn jatuh hati pada perempuan yang bagaikan sekuntum lotus di tengah rawa itu. Namun kebahagiaan itu terusir, lambat laun, ia sadar : ia hidup untuk mati.

Dan seperti inilah pada akhirnya. Seperti yang pernah ia dengar pada cerita-cerita heroik yang selalu dibawakan ibunya waktu kecil dulu, semua pahlawan pasti akan mengorbankan hidupnya untuk rakyatnya. Tapi Vahn tak ingin menjadi pahlawan, ia ingin menjadi pemuda desa yang sederhana. Hidup bercocok tanam di kaki gunung, menikmati udara yang bersih dan sungai yang berlimpah ikan. Kembali seperti dulu.

Lagi-lagi kucuran darah yang kini disertai batuk menghalanginya untuk berkhayal lebih jauh.

Vahn merasa tubuhnya bergetar hangat, sangat hangat namun tidak panas. Ketika ini ia merasa nafasnya begitu berat, seolah ingin berhenti untuk menghirup oksigen yang serasa semakin menipis. Otot dan sendinya sudah berhenti, begitu juga aliran darahnya. Perlahan rasa dingin menjalar dari kakinya, dan terus ke atas menelan tubuhnya. Pandangan matanya memburam.

Sementara, tangga tempatnya terbaring juga turut bergetar hebat disertai suara gemuruh. Semakin lama menimbulkan retakan-retakan yang melebar, dan puing-puingnya pun berjatuhan satu persatu. Namun pemuda berambut merah yang tadi berbaring lemah, kini sudah tak dapat lagi merasakan dan memperhatikan semuanya.

Vahn merasa tubuhnya begitu ringan, sangat ringan hingga ia seolah terbang. Namun yang dapat terlihat di depannya hanya putih, dan Vahn merasa sangat ingin kesana karena itulah tujuannya yang selanjutnya. Saat ia semakin mendekat, samar-samar tampak bayangan dua manusia. Satu pria paruh baya dengan rambut acak-acakan dan jenggot tipis, satunya lagi seorang wanita manis berambut ikal sepundak ; dua orang yang akrab ia panggil ayah dan ibu.

Dan seandainya ia bisa terkejut, ia akan sangat terkejut melihat gadis yang sangat dicintainya ada di antara mereka. Reini tersenyum seolah menyiratkan selamat datang.


***

Kurang dari tiga jam yang lalu dalam hitungan Satuan Waktu Persva...

“Tuan Vahn sudah masuk ke dalam Hutan Zen sejak setengah hari yang lalu Nona. Dan mungkin sekarang ia sedang bertarung melawan Iblis Loy di puncak Tangga Dua Waktu.” Lapor seorang prajurit berbaju zirah dengan hiasan jubah merah bergambar bintang dan mahkota. Prajurit itu tidak mengenakan helmnya selagi berlutut di hadapan seorang perempuan dengan gaun sutra berwarna kebiruan, selaras dengan warna bola matanya.

“Terima kasih, Jiz. Kau boleh pergi sekarang.” Ucap si putri dengan nada kewibawaan namun sekilas menyembunyikan kekhawatiran.

Aljiz menunduk sejenak sebelum akhirnya berdiri dan berbalik hingga melangkah pergi melewati pintu yang masih terbuka.

Tanpa menunggu si prajurit menghilang dari ruangannya, Reini sudah lebih dulu memutar badan dan memandang keluar jendela. Pikirannya berkemelut, seakan ribuan lalu lintas data berpacu di otaknya. Namun lebih daripada itu, hatinya terus khawatir dan semakin khawatir akan kejelasan nasib seorang pejuang di luar sana. Ia sudi untuk menukar segala kemewahannya jika itu bisa membuat pujaan hatinya tidak harus menunaikan tugas ‘bunuh diri’ ini. Disaat memikirkan hal ini, sang putri seolah lupa bahwa sebenarnya ia juga memiliki tugas yang sama.

Reini berjalan ke arah meja berbentuk lingkaran berhias ukiran tumbuh-tumbuhan, gelang-gelangnya bergemerincing sesaat ketika ia melangkah. Di meja itu sudah tersaji satu buku catatan bersampul coklat lengkap dengan pena bulu dan tinta celup di sampingnya. Dua jenis benda yang sampai usianya yang kedua puluh lima masih setia menjadi curahan hatinya.

Dengan lincah Reini meraih pena, mencelupkannya beberapa kali, lalu mulai menorehkan kata demi kata di satu halaman kekuningan buku itu. Kesemua kata seolah meluncur langsung dari hati perempuan itu. Reini menulis dengan perasaan yang sendu, ia merasa seperti benang sari yang kehilangan putik. Tanpa sadar, butir air yang jatuh dari matanya membasahi kertas.

Usai itu, Reni mengusap matanya sembari menata perasaan yang remuk ; kecewa pada takdir yang tak ubahnya mata pisau menembus jantungnya. Ingin sekali marah tapi ia tahu itu tidak berguna. Reini tahu apa yang sedang dilakukan Vahn sekarang, dan ia tahu apa yang harus ia lakukan segera.

Perempuan itu menanggalkan gaun dan segala perhiasan istana. Menggantinya dengan pakaian jelata dan jubah kelabu. Beberapa menit kemudian, ia sudah tak terlihat lagi di ruangan itu. Reini sudah pergi untuk menunaikan tugasnya. Sambil tanpa henti memegangi kalung intan pemberian Vahn.

***

Ayah, Ibu dan semua rakyat Persva, maafkan aku...
Aku harus pergi...

Barangkali kalian semua hanya akan mengerti jika kalian berada dalam posisiku.
Pilihan ini sangatlah berat untuk kuambil, tapi jika aku tetap tinggal, itu percuma!
Hatiku telah terbawa oleh seseorang yang juga akan pergi.
Lagipula semua akan binasa jika aku tak menunaikan tugas ini.

Kalian semua tak tahu bahwa akulah kunci Gerbang Kelima.

Ayah, Ibu, maafkan aku telah menyembunyikan ini semua. Aku tahu ibu sudah curiga sejak dulu ketika melihat stigma aneh di dadaku, dan putrimu yang tertutup ini selalu mengelak jika ditanya.
Aku takut. Aku takut jika nanti kalian tahu, kalian akan mulai mengekangku dan menyembunyikanku dari umum! Dan keselamatan seluruh dunia yang akan menjadi taruhannya.

Ayah, Ibu, tolong ijinkan putrimu ini untuk pergi ke Perbukitan Enkels, karena di sanalah aku akan menutup Gerbang Kelima. Dan tolong jangan mencariku.

Seandainya saja kalian tahu, aku mencintai Vahn yang terkenal itu. Mungkin inilah yang menjadi alasan lainku untuk pergi, karena aku tidak ingin kalian menikahkanku dengan orang lain meskipun seorang pengeran sekalipun. Cinta kami kekal di dunia maupun di Alam Keabadian.

Ayah, Ibu, lewat catatan ini, aku berpamit, selamat tinggal!


***

Seberkas lingkaran cahaya yang semakin meluas memancar di permukaan langit. Cahaya itu berwarna putih dan dapat memberikan kesan damai bagi siapapun yang memandang. Seperti sebentuk gelombang yang berpusat pada satu titik di langit jauh. Lingkaran cahaya pertama bergerak melebar hingga menghilang di horison, kemudian disusul lingkaran cahaya kedua yang menyebarkan benih-benih kehidupan baru di sekujur dunia dan seterusnya muncul lingkaran cahaya-cahaya baru.

Fenomena mengangumkan itu berlangsung hanya beberapa menit saja. Namun kesedihan-kesedihan hati yang terangkat olehnya akan bertahan selamanya.

Semua orang tahu, pada hari itu ribuan Iblis yang masuk ke Dunia Manusia lenyap serentak, bagaikan terusir oleh cahaya itu. Pada hari itu juga prjaurit-prajurit yang selama ini berperang, beralih memasang wajah gembira dan merayakan berakhirnya Zaman Hitam. Pada hari itu dan seterusnya, dunia tertata dengan damai dan tak ada setetespun darah yang tertumpah sia-sia. Pada hari itu dimulailah peradaban baru umat manusia.






Nganjuk,
12/12/2010, 02:39
Rio S. Pambudi

0 komentar:

Posting Komentar